Ini adalah jurnal mengenai perjalanan saya ke daerah-daerah di Indonesia. Saya tidak selalu berniat melakukan petualangan karena lebih sering saya melakukan perjalanan karena ditugaskan kantor saya. Dalam perjalanan itu, di waktu luang saya mencoba kekayaan masakan khas daerah tersebut.

Akhirnya, jurnal perjalanan ini menjadi sekedar jurnal icip-icip masakan nusantara. Saya tak begitu pandai menilai enak-atau tidaknya suatu masakan. Saya hanya bisa menggambarkannya saja. Masalah rasa enak atau tidak enak, saya tak berani mendikte lidah Anda. Lidah saya sendiri saja saya tak berani dikte.

Gastronomi adalah sebuah ilmu relasi antara makanan dan budaya. Bukan penilaian enak atau tidaknya. Saya makan bukan karena lezat (kalau begini biasanya saya menjadi gemuk dan tidak sehat). Bukan juga karena gaya hidup (yang membuat saya konsumtif hanya untuk makan apa yang orang lain makan).

Saya mencoba makanan khas daerah karena menikmati budaya. Makan adalah pengalaman. Not just eat it, experience it! Selamat makan!
Tampilkan postingan dengan label Pontianak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pontianak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2011

Pacri Nanas Warung Dangau

Masakan Melayu terkenal dengan kepedasan dan pemakaian santannya. Umumnya masakan Melayu terkenal dengan pengaruh India, dengan modifikasi rempah-rempah lokal. Tak heran di setiap rumah makan Melayu atau Minang, selalu kita temukan gulai.

Hal ini tak berbeda dengan budaya gastronomi Melayu Sambas. Di Sambas, Kalimantan, memiliki populasi orang Melayu yang sama besarnya dengan kota-kota di Sumatera. Sama juga kasusnya dengan kota-kota lain di Kalimantan seperti Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, dan lain-lain.

Untuk itu tak salah apabila kita mengharapkan menemui hidangan gulai sebagai hidangan khas di Pontianak. Mayoritas penduduk Pontianak adalah Melayu, ditemani oleh etnis-etnis lain seperti Cina, Dayak, dan lain-lain. Hidangan gulai yang cukup digemari di daerah Pontianak, Singkawang, Sambas dan sekitarnya adalah pacri nanas.

Mungkin Anda merasa salah baca karena aneh bahwa buah nanas dijadikan gulai? Anda tidak salah, memang Pacri Nanas adalah sejenis gulai dari nanas, bukan daging atau ikan seperti layaknya kita menjumpai gulai. Pacri nanas adalah tipikal masakan vegetarian asli Melayu. Karena asli Melayu, meskipun vegetarian, mereka tidak meninggalkan santan yang berminyak dalam masakan ini.

Banyak orang yang merasa tidak biasa makan nasi bersama buah. Ini adalah hal menarik yang harus dicoba. Sebenarnya beberapa budaya lain di Indonesia sudah terbiasa makan durian dengan nasi, atau buah lainnya. Sambal mangga adalah sambal favorit istri saya. Ayah saya juga dulu terbiasa makan semangka dengan nasi, yang akhirnya saya tiru. Sensasinya justu mengasyikkan, sangat menyegarkan. Di saat bumi Indonesia kaya akan buah, kita masih belum cukup banyak mengonsumsinya.

Warung dangau di Pontianak terletak di lokasi yang asri, yang membuat kita lebih betah berlama-lama mencoba menu yang lain. Jangan dibayangkan sebuah warung kecil, karena sebenarnya Warung Dangau adalah sebuah restoran besar yang sudah maju, lengkap dengan taman bermain anak-anak. Di sebelahnya juga telah berdiri Hotel Dangau, spin-off bisnis dari restoran tersebut.

Konon pemiliknya dulu hanya berjualan nasi goreng pinggir jalan. Setelah semakin ramai, dia mulai berjualan masakan asli daerahnya ini. Saat ini bisnis restorannya semakin ramai, dengan dibukanya hotel dan cabang restoran di Singkawang. Kalau Anda berkendara dari Bandar Udara Supadio, sebelum memasuki kota Pontianak, Hotel dan Warung Dangau ada di sebelah kanan jalan.

Kelebihan dari Warung Dangau adalah masakan yang khas. Dia tidak berusaha untuk menjadi orang lain. Setlist menunya sangat menggoda, membuat saya ingin mencoba banyak sekali. Pada kesempatan ini, selain pacri nanas, saya juga mencoba kari kepiting dan tumis pakis. Keduanya sangat memuaskan. Kari kepitingnya menurut saya salah satu yang terlezat yang pernah saya makan. Tumis pakisnya juga menggoda selera, sangat harum. Ketika makan di Warung Dangau, saya jadi merasa seperti orang Melayu asli. Saya pasti ingin berkunjung kembali suatu saat.

Minggu, 14 Agustus 2011

Bubur Pedas Jalan Merdeka

Saya sangat menikmati kunjungan ke Pontianak. Penduduk Pontianak sangat ramah, dan kotanya juga teduh. Pontianak dihuni oleh masyarakat dari beragam suku, membuat keragaman makanan daerahnya sangat kaya. Di Pontianak, banyak kita temui orang Cina, Dayak, Melayu, Bugis, dan lain-lain. Kota yang dibelah oleh sungai Kapuas ini menjadi tumpuan hidup berbagai macam penduduk dari berbagai latar belakang suku dan agama.

Sebagai ibukota Kalimantan Barat, di kota Khatulistiwa ini juga banyak berdiam orang Sambas. Kabupaten Sambas terletak di ujung utara Kalimantan Barat. Makanan yang cukup terkenal dari daerah Sambah adalah Bubur Pedas. Pada kunjungan saya ke Pontianak, saya sempatkan untuk mencoba Bubur Pedas yang ada di Jalan Merdeka, Pontianak.

Bubur Pedas Jalan Merdeka ternyata cukup terkenal, karena cukup ramai waktu makan siang. Sebelumnya saya hanya mendengar cerita mengenai bubur pedas Sambas dari teman saya di Jakarta yang asli Singkawang, tetapi saya belum punya bayangan tentang apa yang saya harapkan. Ketika pesanan bubur pedas saya tiba di meja, saya awalnya merasa tidak antusias.

Mengapa namanya bubur pedas? Saya tidak tahu, karena bubur ini sama sekali tidak pedas, kecuali bila kita menambahkan sambal. Bubur ini adalah bubur sayuran. Berbagai macam sayuran masuk ke dalam bubur ini, antara lain daun pakis, tauge, jagung, kangkung, dan lain-lain. Juga begitu banyak rempah yang dimasukkan sebagai bumbunya. Tidak ada daging sapi atau ayam dalam bubur ini, melainkan hanya dengan kacang tanah goreng dan teri goreng. Begitu sederhana, tapi begitu kaya bumbu.

Akan tetapi ketika saya mulai mencobanya, saya langsung sumringah. Rasanya khas dan segar. Saya sangat suka citarasa bubur pedas ini. Lebih bercitarasa dibandingkan bubur ayam yang biasa ditemui di Jakarta atau Bandung, menurut saya. Sayuran daun pakisnya memberi tambahan aroma yang sangat khas. Selera makan saya langsung meningkat begitu suapan pertama bubur berisi sayuran ini. Aromanya sangat harum dan rasanya yang gurih menggugah selera.

Sambas adalah kabupaten yang berbatasan dengan Malaysia, jadi bisa dimaklumi apabila pengaruh budayanya sampai ke negeri seberang. Di Malaysia juga ada bubur pedas, akan tetapi ada beberapa perbedaan antara bubur pedas Malaysia dan bubur pedas Sambas.