Ini adalah jurnal mengenai perjalanan saya ke daerah-daerah di Indonesia. Saya tidak selalu berniat melakukan petualangan karena lebih sering saya melakukan perjalanan karena ditugaskan kantor saya. Dalam perjalanan itu, di waktu luang saya mencoba kekayaan masakan khas daerah tersebut.

Akhirnya, jurnal perjalanan ini menjadi sekedar jurnal icip-icip masakan nusantara. Saya tak begitu pandai menilai enak-atau tidaknya suatu masakan. Saya hanya bisa menggambarkannya saja. Masalah rasa enak atau tidak enak, saya tak berani mendikte lidah Anda. Lidah saya sendiri saja saya tak berani dikte.

Gastronomi adalah sebuah ilmu relasi antara makanan dan budaya. Bukan penilaian enak atau tidaknya. Saya makan bukan karena lezat (kalau begini biasanya saya menjadi gemuk dan tidak sehat). Bukan juga karena gaya hidup (yang membuat saya konsumtif hanya untuk makan apa yang orang lain makan).

Saya mencoba makanan khas daerah karena menikmati budaya. Makan adalah pengalaman. Not just eat it, experience it! Selamat makan!
Tampilkan postingan dengan label Soto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soto. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2010

Soto Banjar Quin

Balikpapan adalah kota pendatang yang ramai karena pertambangan minyak. Berbagai macam etnis tinggal di sana. Jawa, Madura, Kutai, Banjar, Cina, Bugis, Timor, dan lain-lain. Ini mempengaruhi juga tradisi makan di sana. Penduduk sana terbiasa makan makanan yang berbeda rasa dan gaya masak. Kegemaran penduduk sana adalah makan kepiting, nasi pecel, roti mantauw, dan soto lamongan.

Salah satu etnis yang banyak mendiami Balikpapan adalah etnis Banjar. Ini berarti kekayaan makanan Banjar juga banyak ditemukan di Balikpapan. Ciri khas orang Banjar biasanya suka sekali masakan ikan air tawar.

Masakan Banjar lainnya yang cukup terkenal adalah Soto Banjar. Soto Banjar adalah soto daging ayam yang biasanya dimakan dengan lontong dan perkedel singkong. Kuahnya segar, tanpa santan. Yang membedakan dengan soto Lamongan atau Makassar adalah lebih sedikitnya minyak atau lemak dalam soto tersebut. Aroma adas membuat soto ini mempunyai rasa yang unik. Bumbu ini tidak ditemui di Soto Lamongan, Soto Madura, Soto Makassar, ataupun Sauto Sokaraja. Soto Banjar mirip Soto Padang yang juga menggunakan adas, tapi memakai lemak daging sapi.

Soto Banjar Quin cukup terkenal di Balikpapan. Letaknya di Jalan Jend. Sudirman. Pengunjungnya cukup ramai, bukan hanya dari etnis Banjar semata. Soto Banjar Quin memakai ayam kampung. Sotonya dihiasi dengan potongan-potongan telur rebus yang menggoda. Perkedelnya juga khas dan menggugah selera makan.

Kamis, 18 November 2010

Coto Makassar Paraikatte

Memang di Jakarta juga banyak restoran Coto Makassar. Tapi ada cita rasa khas yang ketika kita makan di warung Coto Makassar Paraikatte, di kota kelahirannya sendiri, yang tidak kita dapatkan di restoran manapun di Jakarta.


Coto Paraikatte terletak di jalan Patterani, Makassar, Sulawesi Selatan. Tiap harinya ramai oleh pengunjung yang notabene penduduk lokal. Saat itu mungkin cuma saya orang Jakarta yang makan di situ.


Rasanya khas. Saya pesan coto jerohan dan seorang teman pesan coto daging. Memang yang saya pesan berisiko kolesterol tinggi, tapi menurut saya, pengolahan jerohan yang prima sangat memberikan nilai tambah terhadap rasa khas coto. Asal jangan keseringan makan coto jerohan saja. Dan ternyata coto jerohan di Paraikatte cukup enak.


Kalau saya diminta memberikan nilai skala 1-10, ada satu hal yang membuat saya bermaksud memberikan nilai 9, yaitu "Sambal"nya. Sambalnya luar biasa, memiliki cita rasa yang tidak akan kita temui meskipun kita seharian mengubek-ubek Jakarta.


Sambalnya terutama terbuat dari tauco atau kedelai asli dan kental. Cita rasanya pas, dan pedasnya pas pula. Rasanya tidak ada duanya, melengkapi rasa coto, tapi juga mempunyai kekhasan rasa dan aroma tersendiri. Saya bahkan sempat terpikir untuk memborong sambalnya saja untuk dibawa pulang ke Jakarta.


Dari segi harga cukup murah. Dua mangkuk coto, 3 ketupat, 2 minuman botol cuma menghabiskan Rp 22.000. Tiket pesawatnya memang yang mahalnya Naudzubillah! Hehehe...