Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki menu yang berbasis lontong dan ketupat. Gado-gado menjadi menu favorit di berbagai daerah di Indonesia dalam berbagai versi. Di Surabaya kita kenal Lontong Balap, Lontong Kupang, Tahu Tek dan Rujak Cingur. Di Jakarta, Ketupat Sayur dan Ketoprak juga sangat digemari. Di Banjarmasin, soto pun dimakan dengan memakai ketupat. Sate Padang dan Madura juga memakai ketupat dan lontong.
Salah satu menu khas Malang, Jawa Timur yang memakai bahan ketupat adalah Orem-orem. Orem-orem adalah tipikal masakan khas Indonesia untuk menu sarapan. Rasa yang segar dan ringan menjadikan masakan ini sebagai pilihan sarapan bagi masyarakat Malang.
Orem-orem adalah ketupat yang diberi sayur tempe kuning. Warna kuning dan rasanya yang khas menyegarkan didapat dari bumbu kunyit. Meskipun ini adalah sayur tempe, orang Malang biasanya tak sungkan-sungkan untuk menambahkan lauk tempe goreng. Jadi lengkap sekali tema tempenya.
Salah satu warung ketupat orem-orem favorit di Malang adalah warung orem-orem HM Syahri, atau akrab disebut dengan Orem-orem Pertukangan. Dulu jalan tempat warung tersebut berada dinamakan Jalan Pertukangan, tetapi sekarang sudah berubah menjadi Jalan Gatot Subroto.
Jangan bayangkan menemukan sebuah restoran yang mapan ketika mengunjungi warung ini. Lokasinya sempit sekali. Terlalu sempit malah. Warung Orem-orem HM Syahri ini hanya berukuran 2 x 3 meter. 5 orang makan pun tidak akan muat. Bila sudah penuh, terpaksa kita harus makan di luar, di pinggir jalan raya.
Yang khas dari Warung Orem-orem HM Syahri adalah ketupatnya yang dibikin dalam ukuran raksasa. Rasanya segar, sangat pas untuk sarapan. Harganya juga sangat, sangat terjangkau.
Dalam buku Eat, Pray, Love, penulisnya melakukan petualangan makan di Italia, berdoa di India, dan mencintai di Indonesia. Saya pikir dia terbalik-balik. Di Indonesia, makanan sangatlah enak dan khas. Orang Indonesia juga sangat taat berdoa. Saking taatnya sampai kita bersedia saling melukai. Alih-alih, Indonesia adalah negara yang kekurangan cinta. Mari kita menjelajah Indonesia untuk mencari cinta yang tersembunyi di antara peradaban yang tua dan mulai kusam. Sebelumnya, mari kita makan.
Ini adalah jurnal mengenai perjalanan saya ke daerah-daerah di Indonesia. Saya tidak selalu berniat melakukan petualangan karena lebih sering saya melakukan perjalanan karena ditugaskan kantor saya. Dalam perjalanan itu, di waktu luang saya mencoba kekayaan masakan khas daerah tersebut.
Akhirnya, jurnal perjalanan ini menjadi sekedar jurnal icip-icip masakan nusantara. Saya tak begitu pandai menilai enak-atau tidaknya suatu masakan. Saya hanya bisa menggambarkannya saja. Masalah rasa enak atau tidak enak, saya tak berani mendikte lidah Anda. Lidah saya sendiri saja saya tak berani dikte.
Gastronomi adalah sebuah ilmu relasi antara makanan dan budaya. Bukan penilaian enak atau tidaknya. Saya makan bukan karena lezat (kalau begini biasanya saya menjadi gemuk dan tidak sehat). Bukan juga karena gaya hidup (yang membuat saya konsumtif hanya untuk makan apa yang orang lain makan).
Saya mencoba makanan khas daerah karena menikmati budaya. Makan adalah pengalaman. Not just eat it, experience it! Selamat makan!
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 November 2011
Minggu, 12 Desember 2010
Gudeg Koyor Yu Yem
Terakhir saya pergi ke Semarang, sebelum pulang ke Jakarta, saya sempatkan berjalan-jalan di kawasan Simpang Lima. Sebelum jalan ke bandara, saya berniat untuk makan siang dulu.
Saya jalan kaki dengan santai sampai ke Jl. K.H. Ahmad Dahlan. Di tengah jalan ada jalan masuk ke Jl. Seroja. Disitu ada warung gudeg Yu Yem. Iseng-iseng saya mencoba makan disitu.
Saya sudah pernah membahas sebelumnya mengenai gudeg kering ala Yogya dan gudeg basah ala Solo. Nah, gudeg Yu Yem ini jelas gudeg basah. Akan tetapi yang menarik adalah "koyor". Apakah itu koyor?
Anda harus mencoba gudeg "koyor" ini. Saya suka sekali cita rasanya. Yang dinamakan "koyor" sebenarnya adalah otot sapi. Itu istilah orang Jawa Tengah. Tapi jangan terbayang otot yang keras dan liat. Koyor itu otot sapi yang lembut sekali. Kalau Anda mengirisnya dengan sendok, koyor akan mudah terpotong. Di mulut pun terasa lembut menari-nari.
Jadi saya memesan gudeg koyor ke Yu Yem (dia sebenarnya sudah nenek-nenek), tanpa diberi opor ayam seperti yang biasa ditambahkan di gudeg umunya. Tetap ditemani sambal goreng krecek dan tempe bacem.
Saya suka sekali. Kalau tidak ingat jam pulang yang semakin mepet, mungkin saya akan lebih lama disitu, nambah satu piring lagi.
Saya jalan kaki dengan santai sampai ke Jl. K.H. Ahmad Dahlan. Di tengah jalan ada jalan masuk ke Jl. Seroja. Disitu ada warung gudeg Yu Yem. Iseng-iseng saya mencoba makan disitu.
Saya sudah pernah membahas sebelumnya mengenai gudeg kering ala Yogya dan gudeg basah ala Solo. Nah, gudeg Yu Yem ini jelas gudeg basah. Akan tetapi yang menarik adalah "koyor". Apakah itu koyor?
Anda harus mencoba gudeg "koyor" ini. Saya suka sekali cita rasanya. Yang dinamakan "koyor" sebenarnya adalah otot sapi. Itu istilah orang Jawa Tengah. Tapi jangan terbayang otot yang keras dan liat. Koyor itu otot sapi yang lembut sekali. Kalau Anda mengirisnya dengan sendok, koyor akan mudah terpotong. Di mulut pun terasa lembut menari-nari.
Jadi saya memesan gudeg koyor ke Yu Yem (dia sebenarnya sudah nenek-nenek), tanpa diberi opor ayam seperti yang biasa ditambahkan di gudeg umunya. Tetap ditemani sambal goreng krecek dan tempe bacem.
Saya suka sekali. Kalau tidak ingat jam pulang yang semakin mepet, mungkin saya akan lebih lama disitu, nambah satu piring lagi.
Sabtu, 11 Desember 2010
Gudeg Barek Bu Amad
Gudeg adalah makanan tradisional Jawa Tengah dan menjadi ikon dari Yogyakarta. Apabila Anda berkunjung ke Yogya, pasti orang akan bertanya, "Sudah mencoba gudeg belum?"
Gudeg adalah sejenis stew dalam tradisi masak-memasak barat, yaitu cara memasak dengan merebus bahan-bahan padat cukup lama sehingga menjadi empuk dan kuahnya menjadi kental. Untuk itu, gudeg masuk kategori slow-cooking food. Bahkan kadang untuk memasak gudeg yang enak, diperlukan waktu lebih dari 6 jam. Kadang bahkan sampai kuahnya kering sama sekali.
Buat Anda yang belum tahu (jarang sekali orang Indonesia tidak tahu gudeg), gudeg adalah adalah masakan sayuran berwarna coklat gelap berasa manis yang terbuat dari nangka muda. Bumbu dari gudeg sangat khas dan penuh rempah. Rasa manisnya diperoleh dari gula kelapa (gula merah). Bumbu yang biasa dipakai dalam membuat gudeg adalah laos, daun salam, ketumbar, bawang putih dan bawang merah, kemiri, ketumbar, dan yang khas, yang biasanya dicampurkan ke dalam gudeg, adalah daun jati.
Ada dua macam gudeg, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Orang Solo biasanya suka sekali menyantap gudeg basah, yaitu yang berkuah dan bersantan lebih banyak. Gudeg basah biasanya lebih pedas. Gudeg kering yang disukai oleh orang Yogya biasanya berasa lebih manis.
Makan gudeg berarti makan yang serba manis (terutama gudeg kering). Orang Sumatera misalkan, yang sudah terbiasa dengan bumbu asam, asin, dan pedas, mungkin memerlukan waktu lebih banyak untuk belajar menyukainya. Campuran dari gudek yang tidak kalah penting adalah tempe dan tahu bacem (dimasak manis), telur pindang (telur yang dimasak dengan kulit bawang merah dan daun jati hingga mengeras dan berwarna hitam), dan sambal goreng krecek (kulit sapi kering yang dibumbu pedas dan direbus dengan santan hingga lembut).
Ada beberapa sentra gudeg di kota Yogya yang terkenal, di antaranya adalah Wijilan, Barek, dan lain-lain. Di Wijilan misalkan, ada rumah makan gudeg yang terkenal seperti Gudeg Yu Djum. Di daerah Janturan, ada tempat makan gudeg yang fenomenal karena makannya di dalam dapur tradisional. Di Barek (dekat UGM) pun tak kalah, ada Gudeg Bu Amad yang terkenal. Kebetulan beberapa saat yang lalu saya diberi kesempatan mengunjungi tempat rumah makan Gudeg Bu Amad.
Saya pertama kali makan di Gudeg Bu Amad tahun 2001, waktu itu adik saya masih kuliah di Yogya. Lokasinya berada di Utara Selokan Mataram, dekat Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Sampai saat ini, rasanya masih tetap sama. Gurih dan menggugah selera. Makan gudeg adalah sebuah pertemuan budaya. Rasanya akan lebih enak apabila Anda makan di antara suasana khas Yogya. Anda harus memahami Yogya untuk memahami konsep di balik rasa gudeg. Menikmati makanan khas adalah sebuah pengalaman budaya.
Di Bandung, salah satu contoh untuk menjelaskan konsep pengalaman budaya ini, ada sebuah restoran gubuk di tengah sawah. Ternyata makan nasi timbel sunda di tengah sawah dengan tangan lebih enak dibandingkan makan di restoran bintang lima di Jakarta. Nasi timbelnya sendiri sebenarnya minimalis dalam bumbu dan dimana-mana rasanya sama saja. Pepatah dalam bahasa Inggris yang saya pakai: "Not just eat it. Experience it."
Nah, itulah yang saya rasakan ketika makan Gudeg Barek Bu Amad. Suasana Yogya yang tenang dan berbudaya membuat saya sangat menikmati gudeg tersebut. Selama di Yogya, saya menyukai rasa manisnya. Gurih dari bumbu yang meresap begitu dalam setelah direbus berjam-jam, terasa begitu menggugah selera dipadukan dengan nasi putih yang masih panas mengepul. Rahasia dari masakan gudeg yang sukses adalah proses memasaknya yang menggunakan kayu bakar. Aroma gudeg yang dimasak Bu Amad dengan kayu bakar merasuk hingga serasa ada suasana yang menentramkan dalam makanan tersebut. Saya selalu mengenang pengalaman ini, menjadi orang Yogya untuk sesaat. Anda mungkin perlu mencobanya.
Gudeg adalah sejenis stew dalam tradisi masak-memasak barat, yaitu cara memasak dengan merebus bahan-bahan padat cukup lama sehingga menjadi empuk dan kuahnya menjadi kental. Untuk itu, gudeg masuk kategori slow-cooking food. Bahkan kadang untuk memasak gudeg yang enak, diperlukan waktu lebih dari 6 jam. Kadang bahkan sampai kuahnya kering sama sekali.
Buat Anda yang belum tahu (jarang sekali orang Indonesia tidak tahu gudeg), gudeg adalah adalah masakan sayuran berwarna coklat gelap berasa manis yang terbuat dari nangka muda. Bumbu dari gudeg sangat khas dan penuh rempah. Rasa manisnya diperoleh dari gula kelapa (gula merah). Bumbu yang biasa dipakai dalam membuat gudeg adalah laos, daun salam, ketumbar, bawang putih dan bawang merah, kemiri, ketumbar, dan yang khas, yang biasanya dicampurkan ke dalam gudeg, adalah daun jati.
Ada dua macam gudeg, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Orang Solo biasanya suka sekali menyantap gudeg basah, yaitu yang berkuah dan bersantan lebih banyak. Gudeg basah biasanya lebih pedas. Gudeg kering yang disukai oleh orang Yogya biasanya berasa lebih manis.
Makan gudeg berarti makan yang serba manis (terutama gudeg kering). Orang Sumatera misalkan, yang sudah terbiasa dengan bumbu asam, asin, dan pedas, mungkin memerlukan waktu lebih banyak untuk belajar menyukainya. Campuran dari gudek yang tidak kalah penting adalah tempe dan tahu bacem (dimasak manis), telur pindang (telur yang dimasak dengan kulit bawang merah dan daun jati hingga mengeras dan berwarna hitam), dan sambal goreng krecek (kulit sapi kering yang dibumbu pedas dan direbus dengan santan hingga lembut).
Ada beberapa sentra gudeg di kota Yogya yang terkenal, di antaranya adalah Wijilan, Barek, dan lain-lain. Di Wijilan misalkan, ada rumah makan gudeg yang terkenal seperti Gudeg Yu Djum. Di daerah Janturan, ada tempat makan gudeg yang fenomenal karena makannya di dalam dapur tradisional. Di Barek (dekat UGM) pun tak kalah, ada Gudeg Bu Amad yang terkenal. Kebetulan beberapa saat yang lalu saya diberi kesempatan mengunjungi tempat rumah makan Gudeg Bu Amad.
Saya pertama kali makan di Gudeg Bu Amad tahun 2001, waktu itu adik saya masih kuliah di Yogya. Lokasinya berada di Utara Selokan Mataram, dekat Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Sampai saat ini, rasanya masih tetap sama. Gurih dan menggugah selera. Makan gudeg adalah sebuah pertemuan budaya. Rasanya akan lebih enak apabila Anda makan di antara suasana khas Yogya. Anda harus memahami Yogya untuk memahami konsep di balik rasa gudeg. Menikmati makanan khas adalah sebuah pengalaman budaya.
Di Bandung, salah satu contoh untuk menjelaskan konsep pengalaman budaya ini, ada sebuah restoran gubuk di tengah sawah. Ternyata makan nasi timbel sunda di tengah sawah dengan tangan lebih enak dibandingkan makan di restoran bintang lima di Jakarta. Nasi timbelnya sendiri sebenarnya minimalis dalam bumbu dan dimana-mana rasanya sama saja. Pepatah dalam bahasa Inggris yang saya pakai: "Not just eat it. Experience it."
Nah, itulah yang saya rasakan ketika makan Gudeg Barek Bu Amad. Suasana Yogya yang tenang dan berbudaya membuat saya sangat menikmati gudeg tersebut. Selama di Yogya, saya menyukai rasa manisnya. Gurih dari bumbu yang meresap begitu dalam setelah direbus berjam-jam, terasa begitu menggugah selera dipadukan dengan nasi putih yang masih panas mengepul. Rahasia dari masakan gudeg yang sukses adalah proses memasaknya yang menggunakan kayu bakar. Aroma gudeg yang dimasak Bu Amad dengan kayu bakar merasuk hingga serasa ada suasana yang menentramkan dalam makanan tersebut. Saya selalu mengenang pengalaman ini, menjadi orang Yogya untuk sesaat. Anda mungkin perlu mencobanya.
Rabu, 08 Desember 2010
Nasi Ayam Simpang Lima
Namanya memang simpel: "nasi ayam". Atau "sego ayam" kata orang Jawa. Tapi makanan ini harus dicoba ketika Anda mengunjungi kota Semarang, Jawa Tengah. Anda belum ke Semarang kalau belum menikmati Nasi Ayam ini.
Sebenarnya nasi ayam adalah masakan generik. Bertebaran dimana-mana, tanpa harus ada merek. Rasanya pun hampir sama-sama antar vendor. Tapi tentu saja, karena para pelancong senang berkumpul di pusat kota Semarang, yaitu kawasan Simpang Lima, maka daerah itu menjadi sentra berkumpulnya pedagang nasi ayam. Biasanya mereka berjualan pagi, atau malah ada yang berjualan larut malam. Siang-siang justru jarang kita temui. Biasanya kita menyantap nasi ayam sambil duduk lesehan di atas tikar, sambil mengobrol menikmati pemandangan jalan Simpang Lima yang ramai.
Saking generiknya, bahkan mereka hanya menamainya nasi ayam. Padahal bermacam-macam yang dihidangkan dalam satu pincuk itu. Kalau Anda perlu gambaran populer, bisa dikatakan nasi ayam itu seperti nasi liwet Solo. Nasi liwet panas disajikan di atas pincuk daun pisang, diberi sayur labu siam, sayur tahu, potongan telur pindang, dan tentu saja daging ayam suwiran. Karena memasaknya dengan cara tradisional, aroma nasi dan sayurnya sangat sangat menggugah selera.
Biasanya kita memakannya dengan lauk tambahan. Banyak sekali pilihannya, mungkin akan membuat Anda ingin mencoba semuanya. Ada hati-ampela, tahu dan tempe bacem, sate usus ayam, sate telur puyuh, dan lain-lain. Saya mencoba yang unik, yaitu sate telur muda (telur belum jadi yang masih di dalam tubuh ayam). Orang Jawa Tengah menyebut telur muda sebagai "uritan" (sedangkan orang jawa timur menyebutnya "rongkong", dan biasa muncul di soto Lamongan yang legendaris itu). Sudah lama sekali saya tidak menikmati telur muda, karena di daerah tempat saya tinggal di Jabodetabek jarang saya temui.
Tapi ingat, buat Anda yang muslim, jangan memakan yang namanya "saren" (orang Jawa Timur menyebutnya "didih"). Saren adalah darah ayam yang dibekukan, kemudian digoreng. Biasanya berbentuk kotak seperti hati sapi, berwarna merah kehitaman. Yang lain, Insya Allah halal dan lezat.
Nasi ayam ini disiram dengan dua macam kuah: kuah sayur labu siam (orang jawa menyebutnya jipang) yang kental dan agak pedas, dan kuah opor tahu yang encer. Saya membagi tips bagi Anda yang gemar pedas luar biasa: jangan tambahkan sambal, alih-alih mintalah kepada penjualnya cabe yang direbus dalam sayur. Cabenya biasanya cabe rawit utuh yang bisa digigit langsung bersama suapan nasi.
Sebenarnya nasi ayam adalah masakan generik. Bertebaran dimana-mana, tanpa harus ada merek. Rasanya pun hampir sama-sama antar vendor. Tapi tentu saja, karena para pelancong senang berkumpul di pusat kota Semarang, yaitu kawasan Simpang Lima, maka daerah itu menjadi sentra berkumpulnya pedagang nasi ayam. Biasanya mereka berjualan pagi, atau malah ada yang berjualan larut malam. Siang-siang justru jarang kita temui. Biasanya kita menyantap nasi ayam sambil duduk lesehan di atas tikar, sambil mengobrol menikmati pemandangan jalan Simpang Lima yang ramai.
Saking generiknya, bahkan mereka hanya menamainya nasi ayam. Padahal bermacam-macam yang dihidangkan dalam satu pincuk itu. Kalau Anda perlu gambaran populer, bisa dikatakan nasi ayam itu seperti nasi liwet Solo. Nasi liwet panas disajikan di atas pincuk daun pisang, diberi sayur labu siam, sayur tahu, potongan telur pindang, dan tentu saja daging ayam suwiran. Karena memasaknya dengan cara tradisional, aroma nasi dan sayurnya sangat sangat menggugah selera.
Biasanya kita memakannya dengan lauk tambahan. Banyak sekali pilihannya, mungkin akan membuat Anda ingin mencoba semuanya. Ada hati-ampela, tahu dan tempe bacem, sate usus ayam, sate telur puyuh, dan lain-lain. Saya mencoba yang unik, yaitu sate telur muda (telur belum jadi yang masih di dalam tubuh ayam). Orang Jawa Tengah menyebut telur muda sebagai "uritan" (sedangkan orang jawa timur menyebutnya "rongkong", dan biasa muncul di soto Lamongan yang legendaris itu). Sudah lama sekali saya tidak menikmati telur muda, karena di daerah tempat saya tinggal di Jabodetabek jarang saya temui.
Tapi ingat, buat Anda yang muslim, jangan memakan yang namanya "saren" (orang Jawa Timur menyebutnya "didih"). Saren adalah darah ayam yang dibekukan, kemudian digoreng. Biasanya berbentuk kotak seperti hati sapi, berwarna merah kehitaman. Yang lain, Insya Allah halal dan lezat.
Nasi ayam ini disiram dengan dua macam kuah: kuah sayur labu siam (orang jawa menyebutnya jipang) yang kental dan agak pedas, dan kuah opor tahu yang encer. Saya membagi tips bagi Anda yang gemar pedas luar biasa: jangan tambahkan sambal, alih-alih mintalah kepada penjualnya cabe yang direbus dalam sayur. Cabenya biasanya cabe rawit utuh yang bisa digigit langsung bersama suapan nasi.
Senin, 22 November 2010
Nasi Goreng Babat Pak Taman
Masakan Jawa Tengah memang terkenal manis. Tapi baru di Semarang saya mendapati bahwa masakan manis benar-benar menjadi gaya hidup yang dihayati. Orang Jawa Timur sangat suka rasa yang dicampur-campur menjadi satu (asin, asam, manis). Makanan Solo tidak hanya manis, sangat beragam. Sedangkan di Yogya, memang kebanyakan manis, walaupun banyak kiblat masakan lain yang tidak mengandalkan manis banyak juga kita jumpai disana.
Tapi di Semarang, rasa manis itu sangat kental, dimana-mana. Hampir semua masakannya dominan menggunakan kecap manis atau gula merah. Bahkan masakan soto pun biasanya ditambahkan tempe bacem atau sate kerang yang sangat manis. Hal seperti tidak akan kita temui di Lamongan atau Madura misalkan (kiblat soto nusantara), atau Makassar, atau Betawi, atau Minang.
Salah satu yang saya temukan sangat manis adalah nasi goreng. Nasi goreng di Semarang berlumuran kecap manis. Nasi goreng sebenarnya masakan yang genealoginya adalah masakan Asia Timur/Cina. Mereka tidak terlalu banyak menggunakan kecap manis, lebih sering kecap asin. Tapi di tangan orang Semarang, nasi goreng menjadi sangat manis dan sangat khas. Mungkin nasi goreng ini cocok di-endorsed oleh konglomerasi kecap manis yang rajin mendikte rasa dengan "festival kuliner"-nya. Beberapa masakan khas daerah menjadi berubah cita rasa gara-gara dipaksakan memakai kecap manis merek tertentu dengan harapan bisa diikutkan dalam festival kuliner tersebut.
Kembali ke Semarang, beberapa waktu yang lalu saya berniat berburu nasi goreng khas kota ini. Nasi goreng yang cukup unik saya temukan adalah di samping Stadion Diponegoro, Semarang. Nasi goreng ini namanya nasi goreng babat. Sesuai namanya, nasi goreng ini dicampur dengan daging babat, meskipun juga ada daging biasa dan juga jerohan lain.
Seperti biasa, rasanya sangat manis. Jerohan dan babat yang terkandung dalam masakan itu cukup banyak. Yang menarik, jerohan dan babat itu tidak beraroma tidak sedap seperti kebanyakan jerohan, selain itu rasanya juga lembut, tidak liat.
Bila Anda penggemar jerohan dan babat, perlu mencoba masakan ini. Nasi Goreng Babat Pak Taman hanya buka dari pagi sampai siang, jadi sebaiknya jangan datang kemalaman.
Tapi di Semarang, rasa manis itu sangat kental, dimana-mana. Hampir semua masakannya dominan menggunakan kecap manis atau gula merah. Bahkan masakan soto pun biasanya ditambahkan tempe bacem atau sate kerang yang sangat manis. Hal seperti tidak akan kita temui di Lamongan atau Madura misalkan (kiblat soto nusantara), atau Makassar, atau Betawi, atau Minang.
Salah satu yang saya temukan sangat manis adalah nasi goreng. Nasi goreng di Semarang berlumuran kecap manis. Nasi goreng sebenarnya masakan yang genealoginya adalah masakan Asia Timur/Cina. Mereka tidak terlalu banyak menggunakan kecap manis, lebih sering kecap asin. Tapi di tangan orang Semarang, nasi goreng menjadi sangat manis dan sangat khas. Mungkin nasi goreng ini cocok di-endorsed oleh konglomerasi kecap manis yang rajin mendikte rasa dengan "festival kuliner"-nya. Beberapa masakan khas daerah menjadi berubah cita rasa gara-gara dipaksakan memakai kecap manis merek tertentu dengan harapan bisa diikutkan dalam festival kuliner tersebut.
Kembali ke Semarang, beberapa waktu yang lalu saya berniat berburu nasi goreng khas kota ini. Nasi goreng yang cukup unik saya temukan adalah di samping Stadion Diponegoro, Semarang. Nasi goreng ini namanya nasi goreng babat. Sesuai namanya, nasi goreng ini dicampur dengan daging babat, meskipun juga ada daging biasa dan juga jerohan lain.
Seperti biasa, rasanya sangat manis. Jerohan dan babat yang terkandung dalam masakan itu cukup banyak. Yang menarik, jerohan dan babat itu tidak beraroma tidak sedap seperti kebanyakan jerohan, selain itu rasanya juga lembut, tidak liat.
Bila Anda penggemar jerohan dan babat, perlu mencoba masakan ini. Nasi Goreng Babat Pak Taman hanya buka dari pagi sampai siang, jadi sebaiknya jangan datang kemalaman.
Minggu, 21 November 2010
Pecel Ontong RM Handayani
Pecel Ontong ya, bukan Pecel Lontong?
Sudah lama sekali saya tidak makan makanan ini, karena di Jakarta memang tidak lazim ditemui. Dulu waktu saya masih tinggal di Kediri, mudah sekali menemukannya.
Ontong dalam bahasa Indonesia artinya jantung pisang. Daging jantung pisang berserat-serat seperti daging ayam. Menurut saya pribadi, Ontong lebih enak dari daging ayam. Boleh percaya boleh tidak.
Kebetulan saya sempat mampir di RM Handayani, Jalan Kertajaya, Surabaya. Rumah makan ini menyajikan menu specialty yaitu Pecel Ontong. Saya makan Pecel Ontong dan Belut Kecap. Pecel Ontongnya gurih dan berserat, dengan aroma yang harum. Bumbu pecelnya lebih lembut dan kental. Sementara Belut Kecapnya cukup menggugah selera, meskipun makan belut harus ekstra hati-hati. Menu specialty lain yang perlu dicoba adalah tumis kol nenek (keong capit, entah masaknya bagaimana), dan tumis lorjuk (sejenis teripang). Mungkin lain kali.
Sudah lama sekali saya tidak makan makanan ini, karena di Jakarta memang tidak lazim ditemui. Dulu waktu saya masih tinggal di Kediri, mudah sekali menemukannya.
Ontong dalam bahasa Indonesia artinya jantung pisang. Daging jantung pisang berserat-serat seperti daging ayam. Menurut saya pribadi, Ontong lebih enak dari daging ayam. Boleh percaya boleh tidak.
Kebetulan saya sempat mampir di RM Handayani, Jalan Kertajaya, Surabaya. Rumah makan ini menyajikan menu specialty yaitu Pecel Ontong. Saya makan Pecel Ontong dan Belut Kecap. Pecel Ontongnya gurih dan berserat, dengan aroma yang harum. Bumbu pecelnya lebih lembut dan kental. Sementara Belut Kecapnya cukup menggugah selera, meskipun makan belut harus ekstra hati-hati. Menu specialty lain yang perlu dicoba adalah tumis kol nenek (keong capit, entah masaknya bagaimana), dan tumis lorjuk (sejenis teripang). Mungkin lain kali.
Sabtu, 20 November 2010
Rawon Buntut Depot Anda
Tempat makan yang cukup terkenal ini berada di kota kelahiran saya.
Depot Anda menyajikan masakan khas Jawa Timur, seperti Rawon dan Soto. Letaknya di sebelah Stasiun Kereta Api Mojokerto, Jawa Timur. Tempat makan ini cukup legendaris, sudah dijalankan oleh 3 generasi. Dirintis mulai awal 1900-an di Mojokerto oleh Kwee Kie Siong, dan sampai sekarang tidak membuka cabang. Awalnya hanya warung kecil di sebelah rel kereta api, sekarang terkenal bahkan sampai ke Jakarta.
Makanan yang cukup laris adalah sop buntut dan rawon buntut. Bagi Anda yang tidak familiar dengan masakan Rawon, sekedar info, dia adalah sup daging berwarna hitam yang kaya rempah berbumbu khas, yaitu kluwek.
Sebenarnya masakan rawon yang memakai buntut sapi agak tidak konservatif. Biasanya rawon hanya memakai daging murni tanpa tetelan, tulang, dan jerohan. Nama "rawon" konon berasal dari kata "rawis" atau "rawisan", yang berarti daging sebelah dada yang bergajih tapi seratnya tidak mudah hancur. Daging yang dipakai biasanya adalah bagian Brisket atau Plate.
Tapi sekarang rawon sudah bermacam-macam jenisnya, yang walaupun kurang tradisional, tak kalah enak. Selain rawon buntut, juga dikenal Rawon Dengkul (paha) yang tersohor di daerah Pasuruan.
Rasa Rawon Buntut Depot Anda cukup unik. Berbeda dengan rawon di tempat lain, di Depot Anda rawon tersebut ditambahkan sedikit kol. Selain Rawon Buntut biasa, juga ada Rawon Buntut Goreng.
Ingat, pada jam makan siang, Depot Anda ramai sekali. Mungkin Anda harus antri dan rela berbagi meja dengan orang lain. Bahkan banyak pengunjung yang datang dari Surabaya (berjarak puluhan kilometer dari Mojokerto) ikut mengantre untuk sekedar makan siang.
Depot Anda menyajikan masakan khas Jawa Timur, seperti Rawon dan Soto. Letaknya di sebelah Stasiun Kereta Api Mojokerto, Jawa Timur. Tempat makan ini cukup legendaris, sudah dijalankan oleh 3 generasi. Dirintis mulai awal 1900-an di Mojokerto oleh Kwee Kie Siong, dan sampai sekarang tidak membuka cabang. Awalnya hanya warung kecil di sebelah rel kereta api, sekarang terkenal bahkan sampai ke Jakarta.
Makanan yang cukup laris adalah sop buntut dan rawon buntut. Bagi Anda yang tidak familiar dengan masakan Rawon, sekedar info, dia adalah sup daging berwarna hitam yang kaya rempah berbumbu khas, yaitu kluwek.
Sebenarnya masakan rawon yang memakai buntut sapi agak tidak konservatif. Biasanya rawon hanya memakai daging murni tanpa tetelan, tulang, dan jerohan. Nama "rawon" konon berasal dari kata "rawis" atau "rawisan", yang berarti daging sebelah dada yang bergajih tapi seratnya tidak mudah hancur. Daging yang dipakai biasanya adalah bagian Brisket atau Plate.
Tapi sekarang rawon sudah bermacam-macam jenisnya, yang walaupun kurang tradisional, tak kalah enak. Selain rawon buntut, juga dikenal Rawon Dengkul (paha) yang tersohor di daerah Pasuruan.
Rasa Rawon Buntut Depot Anda cukup unik. Berbeda dengan rawon di tempat lain, di Depot Anda rawon tersebut ditambahkan sedikit kol. Selain Rawon Buntut biasa, juga ada Rawon Buntut Goreng.
Ingat, pada jam makan siang, Depot Anda ramai sekali. Mungkin Anda harus antri dan rela berbagi meja dengan orang lain. Bahkan banyak pengunjung yang datang dari Surabaya (berjarak puluhan kilometer dari Mojokerto) ikut mengantre untuk sekedar makan siang.
Kamis, 18 November 2010
Lontong Balap Rajawali
Lontong Balap adalah makanan khas Jawa Timur yang kadang underrated. Orang lebih kenal Rawon atau Soto Sulung daripada Lontong Balap. Banyak orang yang belum kenal.
Sebenarnya Lontong Balap tidak jauh berbeda tampilannya dari Tauge Goreng yang sering kita temui di Bogor. Konsep sama dengan treatment yang berbeda. Hanya saja rasa khasnya didapat dari bumbu petis udang, yang menandai cita rasa masakan pesisir. Campuran unik lainnya adalah lontong, tahu, dan gorengan dari kedelai yang disebut "Lento".
Saya memang kelahiran Jawa Timur, tapi jujur, saya kurang akrab dengan Lontong Balap. Aromanya agak khas, sehingga tidak semua orang Surabaya sendiri suka. Namanya sendiri juga terkesan aneh dan tidak nyambung. Tapi nama tidak penting.
Saya sempat mengunjungi Lontong Balap Rajawali, di Jalan Rajawali, Surabaya. Tempatnya kecil, seperti warteg. Tapi konon musisi papan atas Indonesia sering terlihat makan disana kalau sedang di Surabaya. Kalau Anda menginap di Hotel Ibis Surabaya, tinggal jalan kaki sekitar 200 meter ke barat.
Ternyata ada pengalaman yang berbeda menyantap Lontong Balap. Makan Lontong Balap seharusnya ditemani Sate Kerang. Sate Kerang Surabaya biasanya dipilih kerang yang kecil-kecil tapi gurih. Rasa khas ini tidak saya temui di Jakarta. Tidak salah juga menyebut makanan ini sebagai seafood alternatif.
Orang Surabaya biasa minum es kelapa muda setelah makan Lontong Balap. Tapi berhubung saya mengurangi kebiasaan minum minuman dengan es batu sejak awal 2000, saya pesan teh hangat. Ingat, teh di Jawa Timur selalu manis.
Untuk semuanya, saya membayar Rp 12.000. Cukup memuaskan, tidak percuma mencobanya.
Sebenarnya Lontong Balap tidak jauh berbeda tampilannya dari Tauge Goreng yang sering kita temui di Bogor. Konsep sama dengan treatment yang berbeda. Hanya saja rasa khasnya didapat dari bumbu petis udang, yang menandai cita rasa masakan pesisir. Campuran unik lainnya adalah lontong, tahu, dan gorengan dari kedelai yang disebut "Lento".
Saya memang kelahiran Jawa Timur, tapi jujur, saya kurang akrab dengan Lontong Balap. Aromanya agak khas, sehingga tidak semua orang Surabaya sendiri suka. Namanya sendiri juga terkesan aneh dan tidak nyambung. Tapi nama tidak penting.
Saya sempat mengunjungi Lontong Balap Rajawali, di Jalan Rajawali, Surabaya. Tempatnya kecil, seperti warteg. Tapi konon musisi papan atas Indonesia sering terlihat makan disana kalau sedang di Surabaya. Kalau Anda menginap di Hotel Ibis Surabaya, tinggal jalan kaki sekitar 200 meter ke barat.
Ternyata ada pengalaman yang berbeda menyantap Lontong Balap. Makan Lontong Balap seharusnya ditemani Sate Kerang. Sate Kerang Surabaya biasanya dipilih kerang yang kecil-kecil tapi gurih. Rasa khas ini tidak saya temui di Jakarta. Tidak salah juga menyebut makanan ini sebagai seafood alternatif.
Orang Surabaya biasa minum es kelapa muda setelah makan Lontong Balap. Tapi berhubung saya mengurangi kebiasaan minum minuman dengan es batu sejak awal 2000, saya pesan teh hangat. Ingat, teh di Jawa Timur selalu manis.
Untuk semuanya, saya membayar Rp 12.000. Cukup memuaskan, tidak percuma mencobanya.
Langganan:
Postingan (Atom)


